Username

Password

Daftar?
Lupa Password?

Login

Risalah Jumat

Menjaga Ketaqwaan


Senin, 11 Februari 2013Cakra Aminuddin

يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 133-135)

Bulan Ramadhan tahun ini sudah berlalu, tidak akan pernah kembali lagi. Pada tahun mendatang akan datang bulan Ramadhan tetapi bukanlah Ramadhan yang sudah lewat. Karena waktu yang berlalu dari hidup kita merupakan suatu perkara yang jauh dan menjauhi kita, yang dekat adalah kematian yang secara sadar, dengan bergantinya hari, kita berjalan dan mendekatinya.

Para sahabat mengiringi ramdhan yang berlalu dengan doa dan harapan diterimanya amal ibadah mereka selama bulan Ramadhan. Ketakutan tertolahnya nilai ibadah dibalut dengan kekhusyuan dalam beribadah yang dilakukan selama enam bulan setelah Ramdhan. Sedangkan lima bulan setelahnya dimanfaatkan dengan kegiatan dalam rangka menyambut Ramdhan tahun berikutnya. Subhanallah, di mana kita di antara mereka?

Ibadah selama Ramadhan saja tidaklah cukup dijadikan bekal sebelas bulan berikutnya. Sedangkan kita tidak berani menjamin bahwa Allah menerima semua amal ibadah kita meskipun demikian harapan dan doa yang kita panjatkan. Ketakutan ini menjadikan kita untuk semakin dekat kepada Allah, dekat dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan sejauh-jauhnya, mendekati kemaksiatan saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya.

Ketakwaan yang Allah janjikan kepada setiap mukmin yang berpuasa menjadi harapan kita, dimasukkan kepada golongan orang yang bertakwa. Bertakwa kepada Allah disertai totalitas dan profesionalitas dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Kenapa harus takwa, karena takwa adalah derajat agung yang Allah khususkan bagi hambanya yang taat. Kemuliaan hamba di sisi Allah ternilai dari seberapa besar ketakwaannya kepada Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

Pada firman Allah QS. Al-Baqarah: 183, menyebutkan kata yang bermakna takwa dengan bentuk fi’il mudlari’ (verba imperfek) تَتَّقُون   tattaqûn ‘kalian bertakwa’, Allah tidak memakai bentuk isim fa’il seperti muttaqîna ‘orang yang bertakwa’. Ahli linguistic Arab menjelaskan bahwa fi’il mudlori’ pada ayat ini menunjukkan makna at-tajaddud wal istimrâr berarti perbaharuan dan berkelanjutan.

Tidak ada balasan yang setimpal bagi orang yang bertakwa kecuali surga Allah. Tidak ada seorang nabi dan rasul yang menyeru kepada ummatnya kecuali untuk beribadah kepada Allah agar mendapat surga-Nya. Setiap perilaku hamba harus mencerminkan calon penghuni surga. Banyak criteria perilaku calaon penghuni surga sebagaimana firman Allah pada QS. Ali Imran: 133.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”

Awal ayat ini dimulai dengan perintah untuk bersegera mencari ampunan Allah, karena ampunan Allah tidak datang kepada hamba kecuali dicapai dengan usaha dan jerih payah sebagaimana surge Allah tidak bisa dimiliki kecuali dengan kesungguhan dan ketulusan  yang tercermin dari kemurnian akidah, kebenaran beribadah dan keshalihan ahlak. Lebih rinci lagi, Allah menjelaskan ciri karekter orang yang bertakwa sebagai berikut.

Pertama, adalah orang-orang yang gemar berinfak dan bersedekah baik dalam keadaan lapang atau sempit. Kata gemar berinfak atau bersedekah dapat dipahami dari kata يُنْفِقُونَ yunfiqûna ‘berinfak’ berkategori fi’il mudlori memberikan makna terus menerus. Infak dan sedekah ini tidak ditentukan harus berupa uang, tetapi diperbolehkan dalam bentuk bahan makanan, tenaga bahkan dibenarkan dengan ide yang baik dalam memecahkan masalah saudaranya.

Dalam menjelaskan sifat orang yang berinfak atau bersedekah dalam keadaan sempit tidak terlaksana apabila dalam keadaan lapang ia tetap mengeluarkan sebagian rezekinya. Sebagaimana hamba yang  mengingat Allah disaat lapang, maka Allah akan mengingatnya di waktu sempit, membutuhkan sentuhan kekuasaan Allah.

Kedua, adalah menahan nafsu amarah. Amarah bagian dalam hidup manusia, sekalipun fitrah emosional. Perintah dan anjuran melakukan perbuatan dalam islam memberikan manfaat kepada pelakunya dengan mengedepankan sisi positif.

Nafsu amarah yang menguasai pribadi kita menjadi kendali setiap ucapan yang keluar, setiap perbuatan yang terwujud. Sifat negative apabila menjadi penguasa dalam pribadi kita maka akan melahirkan hasil dan amaliyah yang negative pula. Perbuatan yang tidak baik berpotensi melakukan perbuatan maksiat dan dosa.

Larangan Rasulullah untuk umat islam agar tidak marah sudah jauh-jauh disampaikan mengingat bahaya yang dimunculkan. Disamping nafsu atau mengumbar amarah berdampak negative pada kesehatan dengan penyumbatan pembuluh darah, stroke dan berujung pada kematian, ia juga berpotensi menciptakan keretakan ukhuwah islamiyah.

Ketiga, adalah memaafkan orang lain. Tidak ada waktu khusus, hari atau tanggal dalam memberikan maaf kepada saudara muslim. Menegerakan meminta maaf bagi yang bersalah dan memberikan maaf bagi yang dimintai maaf salah satu karakter orang bertakwa. Beratnya seseorang meminta maaf hanya saja menambah catatan buruk saja, terlebih adanya pemahaman bahwa orang yang meminta maaf adalah hina.

Pemahaman yang perlu diluruskan yaitu orang yang berjiwa besar adalah mereka yang dengan ringan memaafkan kesalahan saudaranya, baik sengaja atau tidak. Begitu juga dengan mereka yang tanpa berfikit panjang untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Mencari seribu satu alasan untuk meminta maaf dan memaafkan oranag lain termasuk sifat mulia. Tidak ada manfaat bagi mereka yang menaruh dendam pada saudaranya terlebih menggunakan sumpah untuk tidak memaafkannya.

Allah akan memberikan ampunan dan maaf kepada hambanya yang secara sunggguh mengharapkan ampunannya. Menghadirkan hati dalam setiap doanya, melakukan perbaikan amalan dengan melaksanakan perbuatan baik. Karena perbuatan baik akan menghapus perbuatan jahat.

Apabila kesalahan berkaitan dengan urusan sesama hamba, maka meminta maaf kepada yang bersangkutan atas kesalahan dan dosa yang telah diperbuat menjadi sarat utama seorang hamba sebelum menghadap kepada Allah. Karena hak Allah pada hambaNya menjadikan alasan bagi sesame hamba untuk saling menjaga hubungan baik, saling menghormati, menasehati dan memaafkan serta meminta maaf.

Inilah ketakwaan yang harus dijaga, baik di mana saja kita berada dan kapan saja. Karena takwa peka zaman dan tempat. Bertakwa kepada Allah tidak pada waktu-waktu khusus dan di tempat-tempat khusus. Sebagaimana Allah juga tidak memberikan nikmatNya kepada kita di tempat dan waktu yang khusus juga. Allahu a’lam bish-shawab. 

1 Komen Untuk "Menjaga Ketaqwaan"

AvatarEDY Komentar:21 Juni 2013

alangkah indahnya dunia jika manusia terjaga ketagwaannya.

 KOMENTAR 

Risalah Jumat

Mensiasati Halal dan Haram

Posting Oleh admin | 0 Komentar

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa…

Indahnya Qiyamul Lail

Posting Oleh admin | 1 Komentar

dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu…

Ciri-ciri Akhlak Dalam Islam

Posting Oleh admin | 7 Komentar

Ketahuilah bahwa akhlak menempati posisi penting dalam ajaran Islam. Hal…

Menjaga Ketaqwaan

Posting Oleh admin | 1 Komentar

يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ…

 

Agenda Pimpinan

Tidak Ada Agenda

 

Agenda Ortom

Tidak Ada Agenda

 

Banner

 

Statistic

Hari ini82 Kemaren146 Minggu Ini586 Minggu Lalu563 Bulan ini2573 Tahun ini35096 Total1077972 Hits Count235 Now Online1 Users