Username

Password

Daftar?
Lupa Password?

Login

Risalah Jumat

Mensiasati Halal dan Haram


Rabu, 30 Oktober 2013Cakra Aminuddin

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “ (Al maidah : 87 )

Dua hal yang selalu bertentangan dalam hidup ini dalam segala kondisi  dan keadaan yakni halal dan haram. Sesuatu yang halal itu selalau mengandung fadlilah (keutamaan)  dan segala sesuatu yang haram itu mengandung kemudlaratan (tercela/buruk) . Halal adalah sesuatu yang dengannya terurailah buhul yang membahayakan dan Allah menyuruh  untuk dikerjakan. Haram adalah sesuatu yang Allah melarang untuk dilakukan dengan larangan yang tegas, setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat. Di riwayatkan  dari Salman Al –Farisi bahwa Rasulullah saw ditanya tentang minyak samin, keju dan jubah dari kulit binatang, lalu beliau menjawab ;” Yang halal adalah segala sesuatu yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya dan yang haram adalah segala sesuatu yanh Allah haramkan dalam Kitab-Nya. Sedangkan apa yang didiamkan-Nya maka ia termasuk yang dimaafkan pada kalian “ (HR. At-Tirmidzi dan Ibn Majah) 

Para ulama telah menetapkan  beberapa kaedah ushul fiqh terkait masalah halal dan haram diantara nya : Al ashlu fi al-asy -yai an nafi’ah al ibahah wa fi andharoh al haramah (Hukum asal sesuatu yang bermanfaat adalah boleh dan yang membahayakan adalah haram), Al ashlu fi al asy-yai al ibahah ma lam yaqum dalilun mu’tabar ‘alal haramah ( hukum asal sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil muktabar yang mengharamkanya. Dalil Muktabar artinya dalil (nash) yang shahih (tidak cacat periwayatanya) dan sharih (jelas maknanya) .  Kaedah ini didasarkan pada firman Allah swt :

Artinya : “ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Baqarah : 29)

Dunia sekaang ini mengalami akselerasi perkembangan yang luar biasa. Orang menyebutnya sebagai era tehnologi dan globalisas, dimana perilaku manusia lebih cenderung mengedapankan gaya hidup (lifestyle) yang glamor dan hedonis.  Cirri lain dari era sekarang ini adalah apa yang disebut dengan istilah The Boundles of The World  ( dunia tanpa batas), karena memang manusia semakin mudah menggapai semua hajat hidupnya dengan ekstra cepat sedangkan waktu dan jarak sudah tidak lagi menjadi tabir/penghalang. Bahkan komunikasi antar sesama manusia di belahan bumi manapun bisa dilakukan secara cepat dan mudah. Apa yang terjadi di luar kita langsung bisa kita saksikan dalam hitungan menit bahkan detik.

Fenomena global yang paling menonjol di abad ini adalah disebut dengan istilah 3F (Food, fashion, Fun) yakni makanan, pakaian dan hiburan). Allah swt berfirman :

 Artinya : “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah : 168)

Ayat  tersebut diatas mengandung makna bahwa Allah menginginkan agar hamba-Nya berhati-hati dalam masalah yang dikonsumsi atau dimakan. Dari Ka’ab bin Ujroh bahwa Rasululloh saw. bersabda :” Barangsiapa yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, padahal didalam harganya (uang untuk  membeli) terdapat satu dirham saja yang haram, maka Allah tidak menerima shalatnya selama ia mengenakan pakaian itu.” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan pula bahwasanya suatu hari Sa’ad pernah meminta kepada Rasulullah saw. untuk memohonkan kepada Allah agar doanya dikabulkan.  “ Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar doaku dapat diterima-Nya!” kata Sa’ad kepada Rasulullah. ‘Wahai Sa’ad, jika engkau bisa memilihara/menjaga makananmu tetap halal dan menghindari dari yang haram maka doamu akan dikabulkan Allah”, jawab Rasulullah saw. (HR. Bukhari)

Islam menuntut umatnya untuk selalu memperhatikan masalah halal dan haram dalam segala hal baik menyangkut makanan , minuman ataupun perilaku. Budaya makan dan minum sudah mulai tercerabut dan hilang  dari nilai-nilai asasi yang seharusnya, yakni untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis dalam rangka menjalani kehidupan di dunia. Makan  dan minum di era sekarang seolah menjadi global lifestyle yang telah menjadi bagian hidup manusia modern. Makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari  bukan lagi menjadi kebutuhan mendasar manusia namun telah menjadi gaya hidup sesorang yang akhirnya mengarah pada budaya konsumtifisme.

Beragam makanan  dan minuman  baik olahan tradisional maupun pabrik/industri  yang belum jelas status kehalalanya telah tersedia lengkap di era sekarang ini dan dengan mudah dapat kita dapatkan .  Pizza  hut, humburger, steak, sprite, fanta dan masih banyak lagi jenisnya hampir setiap hari dikonsumsi oleh jutaan umat Islam. Lebih parah lagi, kecenderungan mengkonsumsi makanan dan minuman didasarkan atas keinginan atau dalih/alasan untuk menambah kebugaran dan vitalitas serta stamina  bahkan untuk pengobatan, banyak orang yang mulai mengkonsumsi minuman bersuplemen seperti energy drink, capsul action, serta  makan berbagai daging hewan yang diharamkan seperti daging anjing, ular kobra, tikus, kala jengking, serta berbagai reptile dan binatang buas lainnya.

Sebagai orang yang beragama kita tentunya harus sangat berhati-hati dan selektif  dalam mengkonsumsi makanan dan minuman serta harus memperhatikan halal dan haram jangan sampai justru makanan dan minuman yang kita konsumsi membawa mudlarat dan membahayakan diri kita sendiri. Rasulullah saw. bersabda :” Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain”. (HR. Ahmad dari ibn Majah dan ibn ‘Abbas dan ‘Ubadah bin Shamit). Untuk memenuhi  keinginanya banyak manusia yang menghalalkan berbagai macam cara. Batas halal dan haram sudah tidak lagi diperdulikan, padahal batas keduanya sudah jelas dalam agama Islam,  sebagaimana  hadits nabi: “ Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas dan diantara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barangsiapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya”. (HR. Muslim)

Banyak orang yang   berdalih demi kelezatan rasa/penyedap rasa tidak jarang seseorang atau produsen makanan atau minuman mensiasati halal dan haram dengan cara mencapurkan barang yang diolahnya  dengan campuran yang di haramkan oleh agama. Pada era tahun 1980-an umat islam dikejutkan oleh  hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh seorang ahli tehnologi pangan dari Universitas Brawijaya Malang bernama  Ir. Tri Susanto, M.App. Dalam penelitianya dikatakan bahwa sekitar 34 item  jenis makanan yang tersebar dimasyarakat ditemukan adanya kandungan lemak babi.

Dalam perkembanganya isu daftar produk berkandungan lemak babi ini meluas sampai sekarang bahkan bukan hanya makanan saja tetapi sekarang sudah masuk pada produk kosmetik, obat-obatan bahkan sikat gigi, sabun mandi dan cuci.

Allah swt. berfirman :

Artinya: “ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Alla]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Baqarah : 173)

Sebagaimana Islam mengharamkan berbagai cara dan sarana yang dapat mengantarkan kepada yang haram, Islam juga mengharamkan segala tipu muslihat dengan berbagai cara dan strategi yang licik. Islam mengecam orang Yahudi  karena mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan. Diriwayatkan oleh Abu Abdilah bin Battah bahwa Rasulullah saw. berkata : “Janganlah kalian melakukan dosa sebagaimana yang dilakukan orang-orang  Yahudi dan jangan menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah dengan tipu muslihat dan alasan sepele “. (HR. At-Tirmidzi). Allah telah mengharamkan atas orang-orang Yahudi menangkap ikan di hari Sabtu. Kemudian mereka melakukan akal-akalan dengan memasang jarring di hari  Jum’at supaya banyak ikan yang terjaring pada hari Sabtu. Selanjutnya mereka akan mengambilnya pada hari Ahad. Bagi orang-orang yang licik, hal semacam itu boleh-boleh saja. Namun menurut para ahli fiqh, itu haram hukumnya. Karena maksud dari larangan itu adalah menahan diri dari hasil tangkapan baik dengan cara langsung maupun tidak lansung. Oleh karena itulah Allah mengutuk orang-orang Yahudi. Allah swt. berfirman :

Artinya: “ Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu], di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.“ (Al-A’raaf : 163)

Diantara tipu muslihat lainya yang terjadi pada masa sekarang   adalah menamakan sesuatu yang haram dengan nama lain yang terkesan halal, juga mengubah bentuk tanpa mengubah hakekatnya. Jelas bahwa perubahan nama tidak ada artinya sama sekali jika subtansinya tidak berubah, demikan pula dalam pengubahan bentuk jika hakekatnya tetap sama. Jika banyak orang memunculkan berbagai bentuk transaksi untuk mengelabuhi riba yang di haramkan atau menciptakan berbagai kemasan dalam rangka menghalalkan minuman keras maka sesungguhnya  khamr dan riba yang telah dikemas dalam bentuk lain itu hukumnya  tetap tidak berubah yakni haram. Rasulullah saw. mengatakan : “Sungguh akan ada segolongan dari umatku yang menghalalkan khamr, menamakanya dengan selain namanya” ( HR. Ahmad). Hadits lain mengatakan ; “ Akan datang suatu masa di mana orang-orang menghalalkan riba dengan diberi nama jual-beli” (HR. Bukhari).

Allah swt. berfirman :

Artinya : “ Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (Al-Baqarah : 42)

Fenomena  sosial lain yang sangat memprihatinkan di era sekaranag adalah apa yang disebut dengan istilah streaptease (tari telanjang) yang awalnya dari dunia barat dan eropa sekarang mulai berkembang di Indonesia justru dianggap sebagai seni,  minuman keras/khamr dianggap sebagai minuman stamina dan riba dirubah namanya menjadi bunga. Na’dzubillahi min dzalik.

Margianto, PAIF  Kemenag Kota Yogyakarta

0 Komen Untuk "Mensiasati Halal dan Haram"

 KOMENTAR 

Risalah Jumat

Mensiasati Halal dan Haram

Posting Oleh admin | 0 Komentar

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa…

Indahnya Qiyamul Lail

Posting Oleh admin | 1 Komentar

dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu…

Ciri-ciri Akhlak Dalam Islam

Posting Oleh admin | 7 Komentar

Ketahuilah bahwa akhlak menempati posisi penting dalam ajaran Islam. Hal…

Menjaga Ketaqwaan

Posting Oleh admin | 1 Komentar

يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ…

 

Agenda Pimpinan

Tidak Ada Agenda

 

Agenda Ortom

Tidak Ada Agenda

 

Banner

 

Statistic

Hari ini13 Kemaren138 Minggu Ini234 Minggu Lalu609 Bulan ini2396 Tahun ini44044 Total1111688 Hits Count323 Now Online1 Users